TUGAS PKN FAUZI NUR ALAMSYAH
Nama : fauzi nur alamsyah
Sklh:SMK N 4 KOTA SUKABUMI
1.Memetakan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia adalah negara kepulauan.
Hal itu ditegaskan dalam Pasal 25 A UUD Negara Republik Indonesia Tahun
1945 yang menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas
dan hak-haknya ditetapkan oleh undang-undang. Adanya ketentuan ini dalam
UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dimaksudkan untuk mengukuhkan
kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini penting
dirumuskan agar ada penegasan secara konstitusional batas wilayah
Indonesia di tengah potensi perubahan batas geografis sebuah negara akibat
gerakan separatisme, sengketa perbatasan antarnegara, atau pendudukan oleh
negara asing.
Istilah nusantara dalam ketentuan
tersebut dipergunakan untuk menggambakan kesatuan wilayah perairan dan
gugusan pulau-pulau Indonesia yang terletak diantara Samudera Pasifik dan
Samudera Indonesia serta di anatara Benua Asia dan Benua Australia.
Kesatuan wilayah tersebut juga mencakup
1) kesatuan politik;
2) kesatuan hukum;
3) kesatuan sosial-budaya; serta
4) kesatuan pertahanan
dan keamanan.
Dengan demikian, meskipun wilayah
Indonesia terdiri atas ribuan pulau, tetapi semuanya terikat dalam satu
kesatuan negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Berkaitan dengan wilayah negara
Indonesia, pada 13 Desember 1957 pemerintah Indonesia mengeluarkan
Deklarasi Djuanda. Deklarasi itu menyatakan: “Bahwa segala perairan di
sekitar, di antara, dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam
daratan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas atau lebarnya,
adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia
dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan pedalaman atau
perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik
Indonesia. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis
yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik
Indonesia akan ditentukan dengan undang-undang” (Sekretariat Jenderal MPR
RI, 2012:177-178).
2.Deklarasi Djuanda
yang dicetuskan pada tanggal 13 Desember 1957
oleh Perdana Menteri
Indonesia pada saat itu, Djuanda Kartawidjaja,
adalah deklarasi yang menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah
termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu
kesatuan wilayah NKRI.
Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah
negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale
Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan
zaman Hindia Belanda ini, pulau-pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut
di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3
mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut
yang memisahkan pulau-pulau tersebut.
Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa
Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State)
yang pada saat itu mendapat pertentangan besar dari beberapa negara, sehingga
laut-laut antarpulau pun merupakan wilayah Republik Indonesia dan bukan kawasan
bebas. Deklarasi Djuanda selanjutnya diresmikan menjadi UU No.4/PRP/1960
tentang Perairan Indonesia. Akibatnya luas wilayah Republik Indonesia berganda
2,5 kali lipat dari 2.027.087 km² menjadi 5.193.250 km² dengan
pengecualian Irian Jaya yang walaupun wilayah Indonesia tetapi waktu itu belum
diakui secara internasional.
Berdasarkan perhitungan 196 garis
batas lurus (straight baselines) dari titik pulau terluar ( kecuali
Irian Jaya ), terciptalah garis maya batas mengelilingi RI sepanjang 8.069,8 mil laut[1].
Setelah melalui perjuangan yang
penjang, deklarasi ini pada tahun 1982 akhirnya dapat diterima dan
ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III Tahun 1982 (United
Nations Convention On The Law of The Sea/UNCLOS 1982). Selanjutnya delarasi
ini dipertegas kembali dengan UU Nomor 17 Tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS
1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan.
Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid mencanangkan tanggal 13
Desember sebagai Hari Nusantara.[2] Penetapan hari ini dipertegas oleh
Presiden Megawati
dengan menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 126 Tahun 2001 tentang Hari
Nusantara, sehingga tanggal 13 Desember resmi menjadi hari perayaan nasional
tidak libur.
Isi dari Deklarasi Juanda yang
ditulis pada 13 Desember 1957, menyatakan:
- Bahwa Indonesia menyatakan sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri
- Bahwa sejak dahulu kala kepulauan nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan
- Ketentuan ordonansi 1939 tentang Ordonansi, dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia dari deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan :
- Untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat
- Untuk menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan
- Untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI
3.Zona
Laut Teritorial
Batas laut atau zona laut Teritorial merupakan garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut lepas. Jika ada dua negara atau lebih yang menguasai suatu lautan, sedangkan lebar lautan tersebut kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial dapat di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara itu.
Batas laut atau zona laut Teritorial merupakan garis khayal yang berjarak 12 mil laut dari garis dasar ke arah laut lepas. Jika ada dua negara atau lebih yang menguasai suatu lautan, sedangkan lebar lautan tersebut kurang dari 24 mil laut, maka garis teritorial dapat di tarik sama jauh dari garis masing-masing negara itu.
Laut yang terletak antara garis dasar dan
garis batas teritorial di sebut zona laut teritorial. Laut yang terletak di
bagian dalam garis dasar disebut laut internal atau perairan dalam (laut
nusantara). Garis dasar merupakan garis khayal yang menghubungkan titik-titik
dari ujung-ujung pulau paling terluar di suatu negara.
Sebuah negara memiliki hak kedaulatan sepenuhnya hingga batas laut teritorial negara tersebut, tetapi memiliki kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai baik di atas ataupun di bawah permukaan lautnya.
Sebuah negara memiliki hak kedaulatan sepenuhnya hingga batas laut teritorial negara tersebut, tetapi memiliki kewajiban untuk menyediakan alur pelayaran lintas damai baik di atas ataupun di bawah permukaan lautnya.
4.Zona
Ekonomi Eksklusif (ZEE)
Zona Ekonomi Eksklusif merupakan jalur zona laut selebar 200 mil laut ke arah laut terbuka yang diukur dari garis dasar. Di dalam zona ini, Indonesia mendapat kesempatan pertama dalam pemanfaatan sumber daya laut didalamnya.
Zona Ekonomi Eksklusif merupakan jalur zona laut selebar 200 mil laut ke arah laut terbuka yang diukur dari garis dasar. Di dalam zona ini, Indonesia mendapat kesempatan pertama dalam pemanfaatan sumber daya laut didalamnya.
Di
dalam zona ini pula kebebasan pelayaran hingga pemasangan kabel serta pipa di
bawah permukaan laut tetap diakui sesuai dengan prinsip-prinsip Hukum Laut Internasional,
batas landas kontinen, serta batas zona ekonomi eksklusif antara dua atau lebih
negara yang bertetangga saling tumpang tindih, maka ditetapkan garis-garis yang
menghubungkan titik yang sama jauh dari garis dasar negara-negara itu sebagai batasnya.
Pengumuman
mengenai zona ekonomi eksklusif Indonesia telah dikeluarkan oleh pemerintah
Indonesia tanggal 21 Maret 1980.
5.Batas Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
Setiap
wilayah yang dimiliki pasti ada batasnya. Rumah yang kalian tempati juga
tentunya mempunyai batas, begitupun dengan sekolah kalian pasti mempunyai batas
wilayah seperti dibatasi oleh bangunan yang lain, jalan dan sebagainya. Wilayah
lainnya seperti desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi hingga negara juga
memiliki batas kewilayahan.
Batas
wilayah itu untuk menunjukkan atau menandai luas yang dimiliki oleh wilayah
tersebut. Bentuk dari batas wilayah bermacam-macam, ada yang dibatasi oleh
sungai, laut, hutan, atau juga hanya berupa tugu perbatasan saja apabila
wilayah tersebut berbatasn langsung dengan wilayah lainnya.
Bagaimana
dengan batas wilayah Indonesia? Sama halnya dengan negaranegara lainnya,
Indonesia yang memiliki batas-batas tertentu untuk wilayahnya. Kalian sudah
mengetahui bahwa Indonesia adalah negara maritim, dimana dua pertiga luas
wilayah Indonesia adalah lautan. Jadi, tidaklah mengherankan jika batas-batas
wilayah laut Indonesia berhubungan dengan 10 negara sedangkan perbatasan
wilayah darat Indonesia hanya berhubungan dengan tiga negara.
Berikut
ini dipaparkan batas-batas wilayah Indonesia di sebelah utara, barat, timur dan
selatan.
a.Batas-batas
wilayah Indonesia sebelah utara
Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia (bagian timur), tepatnya disebelah utara Pulau Kalimantan. Malaysia merupakan negara yang berbatasan langsung dengan wilayah darat Indonesia. Wilayah laut Indonesia sebelah utara berbatasan langsung dengan laut lima negara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina.
Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia (bagian timur), tepatnya disebelah utara Pulau Kalimantan. Malaysia merupakan negara yang berbatasan langsung dengan wilayah darat Indonesia. Wilayah laut Indonesia sebelah utara berbatasan langsung dengan laut lima negara, yaitu Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina.
b.
Batas-batas wilayah Indonesia sebelah barat
Sebelah barat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan perairan negara India. Tidak ada negara yang berbatasan langsung dengan wilayah darat Indonesia disebelah barat.
Sebelah barat wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan perairan negara India. Tidak ada negara yang berbatasan langsung dengan wilayah darat Indonesia disebelah barat.
Walaupun secara geografis daratan Indonesia terpisah jauh dengan daratan India,
tetapi keduanya memiliki batas-batas wilayah yang terletak dititik-titik
tertentu disekitar Samudera Hindia dan Laut Andaman. Dua pulau yang menandai
perbatasan Indonesia-India adalah Pulau Ronde di Aceh dan Pulau Nicobar di
India.
c.
Batas-batas wilayah Indonesia sebelah timur
Wilayah timur Indonesia berbatasan langsung dengan daratan Papua Nugini dan perairan Samudera Pasifik. Indonesia dan Papua Nugini telah menyepakati hubungan bilateral antar kedua negara tentang batas-batas wilayah, tidak hanya wilayah darat melainkan juga wilayah laut. Wilayah Indonesia sebelah timur, yaitu Provinsi Papua berbatasan dengan wilayah Papua Nugini sebelah barat, yaitu Provinsi Barat (Fly) dan Provinsi Sepik Barat (Sandaun).
Wilayah timur Indonesia berbatasan langsung dengan daratan Papua Nugini dan perairan Samudera Pasifik. Indonesia dan Papua Nugini telah menyepakati hubungan bilateral antar kedua negara tentang batas-batas wilayah, tidak hanya wilayah darat melainkan juga wilayah laut. Wilayah Indonesia sebelah timur, yaitu Provinsi Papua berbatasan dengan wilayah Papua Nugini sebelah barat, yaitu Provinsi Barat (Fly) dan Provinsi Sepik Barat (Sandaun).
d.
Batas-batas wilayah Indonesia sebelah selatan
Indonesia sebelah selatan berbatasan langsung dengan wilayah darat Timor Leste, perairan Australia dan Samudera Hindia. Timor Leste adalah bekas wilayah Indonesia yang telah memisahkan diri menjadi negara sendiri pada tahun 1999, dahulu wilayah ini dikenal dengan Provinsi Timor Timur.
Indonesia sebelah selatan berbatasan langsung dengan wilayah darat Timor Leste, perairan Australia dan Samudera Hindia. Timor Leste adalah bekas wilayah Indonesia yang telah memisahkan diri menjadi negara sendiri pada tahun 1999, dahulu wilayah ini dikenal dengan Provinsi Timor Timur.
Selain
itu, Indonesia juga berbatasan dengan perairan Australia. Diawal tahun 1997,
Indonesia dan Australia telah menyepakati batas-batas wilayah negara keduanya
yang meliputi Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan batas landas kontinen.
Selain wilayah lautan dan daratan, Indonesia juga mempunyai kekuasaan atas wilayah udara. Wilayah udara Indonesia adalah ruang udara yang terletak di atas permukaan wilayah daratan dan lautan Republik Indonesia.
Selain wilayah lautan dan daratan, Indonesia juga mempunyai kekuasaan atas wilayah udara. Wilayah udara Indonesia adalah ruang udara yang terletak di atas permukaan wilayah daratan dan lautan Republik Indonesia.
Berdasarkan
Konvensi Chicago tahun 1944 tentang penerbangan sipil internasional
dijelaskan bahwa setiap negara mempunyai kedaulatan yang utuh dan eksklusif di
ruang udara yang ada di atas wilayah negaranya. Dengan demikian negara kita
mempunyai kekuasaan utuh atas seluruh wilayah udara yang berada di atas wilayah
daratan dan lautan.
Republik
Indonesia juga masih mempunyai satu jenis wilayah lagi, yaitu wilayah
ekstrateritorial. Wilayah ekstrateritorial ini merupakan wilayah negara kita
yang dalam kenyataannya terdapat di wilayah negara lain. Keberadaan wilayah ini
diakui oleh hukum internasional. Perwujudan dari wilayah ini adalah
kantor-kantor pewakilan diplomatik Republik Indonesia di negara lain.
6.Status Warga Negara
1. Status Warga Negara Indonesia
Salah
satu syarat berdirinya negara adalah adanya rakyat. Tanpa adanya rakyat,
negara itu tidak mungkin terbentuk. Menurut kalian samakah pengertian rakyat
dengan penduduk dan juga warga negara. Jawabannya berbeda, satu dan yang
lainnya merupakan konsep yang serupa tapi tidak sama. Masing-masing memiliki
pengertian yang berbeda. Rakyat sebuah negara dibedakan atas dua,
yakni:
a.
Penduduk dan bukan penduduk
Penduduk
adalah orang yang bertempat tinggal atau menetap dalam suatu negara,
sedang yang bukan penduduk adalah orang yang berada di suatu wilayah suatu
negara dan tidak bertujuan tinggal atau menetap di wilayah negara tersebut.
b. Warga
negara dan bukan warga negara.
Warga negara ialah orang yang secara
hukum merupakan anggota dari suatu negara, sedangkan bukan warga Negara
disebut orang asing atau warga negara asing.
Rakyat
sebagai penghuni negara, mempunyai peranan penting dalam merencanakan,
mengelola dan mewujudkan tujuan negara. Keberadaan rakyat yang menjadi penduduk
maupun warga negara, secara konstitusional tercantum dalam
Pasal
26 UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu:
(1) Yang
menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan
orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga
negara.
(2) Penduduk
ialah Warga Negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di
Indonesia.
(3)
Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undangundang.
Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa penduduk ialah Warga
Negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia.
Dengan demikian di Indonesia semua orang yang tinggal di Indonesia termasuk
orang asing pun adalah penduduk Indonesia.
2. Asas-asas Kewarganegaraan
Indonesia
Asas
adalah dasar berpikir dalam menentukan masuk tidaknya seseorang dalam golongan warga
negara dari suatu negara tertentu. Pada umumnya asas dalam menentukan kewarganegaraan
dibedakan menjadi dua,
yaitu:
a. Asas
ius sanguinis (asas keturunan), yaitu kewarganegaraan seseorang
ditentukan berdasarkan pada keturunan orang yang bersangkutan. Misalnya,
Seseorang dilahirkan di negara A, sedangkan orang tuanya berkewarganegaraan
negara B, maka ia adalah warga negara B. Jadi berdasarkan asas ini, kewarganegaraan
anak selalu mengikuti kewarganegaraan orang tuanya tanpa memperhatikan
di mana anak itu lahir.
b. Asas
ius soli (asas kedaerahan), yaitu kewarganegaraan seseorang
ditentukan berdasarkan tempat kelahirannya. Misalnya, seseorang dilahirkan di
Negara B, sedangkan orang tuanya berkewarganegaraan negara A, maka ia
adalah warganegara B. Jadi menurut asas ini kewarganegaraan seseorang
tidak terpengaruh oleh kewarganegaraan orang tuanya, karena yang menjadi
patokan adalah tempat kelahirannya.
c.
Asas kewarganegraan tunggal, yaitu asas yang menentukan satu kewarganegaraan
bagi setiap orang.
d.Asas
kewarganegaraan ganda terbatas, yaitu asas yang menentukan kewarganegaraan
ganda bagi anak-anak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang.
Adanya perbedaan dalam menentukan
kewarganegaran di beberapa negara, baik yang menerapkan asas ius soli
maupun ius sanguinis, dapat menimbulkan dua kemungkinan status kewarganegaraan
seorang penduduk yaitu:
a.
Apatride, yaitu
adanya seorang penduduk yang sama sekali tidak mempunyai kewarganegaraan. Misalnya,
seorang keturunan bangsa A yang menganut asas ius soli lahir di negara B yang
menganut asas ius sanguinis. Maka orang tersebut tidaklah menjadi warga
negara A dan juga tidak dapat menjadi warga Negara B. Dengan
demikian orang tersebut tidak mempunyai kewarganegaraan.
b.
Bipatride, yaitu
adanya seorang penduduk yang mempunyai dua macamkewarganegaraan
sekaligus (kewarganegaraan rangkap). Misalnya, seseorang keturunan
bangsa B yang menganut asas ius sanguinis lahir di negra A yang menganut asas
ius soli. Oleh karena ia keturunan bangsa B, maka ia dianggap sebagai warga
negara B. Akan tetapi, negara A juga mengganggap dia warga negaranya
karena berdasarkan tempat lahirnya.
Dalam menetukan status kewarganegaraan
seseorang, pemerintah suatu Negara lazim menggunakan dua stelsel, yaitu:
a.
Stelsel aktif, yaitu seseorang harus melakukan
tindakan hukum tertentu secara aktif untuk menjadi warga negara
(naturalisasi biasa)
b.
Stelsel pasif, yaitu seseorang dengan sendirinya
dianggap menjadi warga negara tanpa melakukan sutu tindakan hukum
tertentu (naturalisasi Istimewa)
Berkaitan dengan kedua stelsel
tadi, seorang warga negara dalam suatu Negara pada dasarnya mempunyai:
a.
Hak opsi, yaitu hak
untuk memilih suatu kewarganegaraan (dalam stelsel aktif)
b.
Hak repudiasi, yaitu
hak untuk menolak suatu kewarganegaraan (stelsel pasif)
3. Syarat-Syarat menjadi Warga
Negara Indonesia
Pada
bagian sebelumnya disebutkan bahwa yang menjadi Warga Negara Indonesia
adalah Warga Negara Indonesia asli dan orang asing yang disahkan dengan
undang-undang menjadi Warga Negara Indonesia. Penduduk asli Negara
Indonesia secara otomatis adalah Warga Negara Indonesia, sedangkan orang
dari bangsa asing untuk menjadi warga negara harus mengajukan permohonan
kepada pemerintah Indonesia. Proses permohonan itu dinamakan dengan pewarganegaraan
atau naturalisasi.
a.
Naturalisasi Biasa
Mengajukan permohonan kepada
Menteri hukum dan HAM melalui kantor pengadilan negeri setempat dimana ia
tinggal atau di Kedubes RI apabila di luar negeri permohonan ini ditulis dalam
bahasa Indonesia. Bila lulus maka ia harus mengucapkan sumpah setia di hadapan
pengadilan negeri.
Syarat-syaratnya naturalisasi biasa
adalah :
a)
Telah berusia 18 (delapan belas) tahun atau sudah kawin;
b)
Pada waktu mengajukan permohonan sudah bertempat tinggal di wilayah Negara
Republik Indonesia paling singkat 5 (lima) tahun berturut-turut atau paling
singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut;
c)
Sehat jasmani dan rohani;
d)
Dapat berbahasa Indonesia serta mengakui dasar Negara Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
e)
Tidak pernah dijatuhi pidana karena melakukan tindak pidana yang diancam
dengan pidana penjara 1 (satu) tahun atau lebih;
f)
Jika dengan memperoleh Kewarga negaraan Republik Indonesia, tidak menjadi
berkewarganegaraan ganda;
g)
Mempunyai pekerjaan dan / atau berpenghasilan tetap; dan
h)
Membayar uang pewarganegaraan ke Kas Negara.
b.
Naturalisasi Istimewa
Naturalisasi
istimewa di negara RI dapat diberikan kepada warga negara asing yang status
kewarganegaraannya dalam kondisi
sebagai berikut
a)
Anak WNI yang lahir diluar perkawaninan yang sah, belum berusia 18 tahun atau belum
kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing.
b) Anak
WNI yang belum berusia 5 tahun meskipun telah secara sah sebagai anak oleh WNA
berdasarkan penetapan pengadilan, tetap sebagai WNI
c) Perkawinan
WNI dengan WNA, baik sah maupun tidak sah dan diakui orang tuanya yang WNI atau
perkawinan yang melahirkan anak di wilayah RI meskipun status kewarganegaraan
orang tuanya tidak jelas berakibat anak berkewarganegaraan ganda hingga usia 18
tahun atau sudah kawin.
d) Pernyataan
untuk memilih kewarganegaraan dibuat secara tertulis dan disampaikan kepada
pejabat dengan melampirkan dokumen sebagimana ditentukan di dalam
perundangan-undangan.
e) Pernyataan
untuk memilih kewarganegaraan disampikan dalam waktu paling lambat 3 tahun
setelah anak berusia 18 tahun atau sudah kawin
f) Warga
asing yang telah berjasa kepada Negara RI dengan pernyataan sendiri
(permohonan) untuk menjadi warga negara RI atau dapat diminta oleh Negara RI. Kemudian,
mereka mengucapkan sumpah atau janji setia (tidak perlu memenuhi semua syarat
sebagaimanan dala naturalisasi biasa) cara ini diberikan oleh Presiden dengan
persetujuan DPR.
4. PENYEBAB HILANGNYA KEWARGANEGARAAN
Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2006, seorang Warga Negara
Indonesia kehilangan kewarganegaraannya jika yang bersangkutan:
a.
memperoleh kewarganegaraan lain atas kemauannya sendiri;
b.
tidak menolak atau tidak melepaskan kewarganegaraan lain;
c.
dinyatakan hilang kewarganegaraannya oleh Presiden atas kemauannya sendiri,dengan
ketentuan:
1)
telah berusia 18 tahun ;
2)
bertempat tinggal di luar negeri;
d.
masuk ke dalam dinas tentara asing tanpa disertai izin dari Presiden;
e.
masuk dalam dinas negara asing atas kemauan sendiri, yang mana jabatan dalam
dinas tersebut di Indonesia hanya dapat dijabat oleh Warga Negara
Indonesia;
f.
mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian
dari negara asing tersebut atas dasar kemauan sendiri;
g.
turut serta dalam pemilihan seseuatu yang bersifat ketatanegaraan untuk suatu
negara asing, meskipun tidak diwajibkan keikutsertaannya;
h.
mempunyai paspor atau surat yang bersifat paspor dari negara asing atau surat
yang dapat diartikan sebagai tanda kewarganegaraan yang masih berlaku dari
negara lain atas namanya;
i.
bertempat tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia selama lima tahun
terus menerus bukan dalam rangka dinas negara, tanpa alasan yang sah dan dengan
sengaja tidak menyatakan keinginannya untuk tetap menjadi Warga Negara
Indonesia sebelum jangka waktu lima tahun tersebut berakhir,
dan
setiap lima tahun berikutnya yang bersangkutan tetap tidak mengajukan
pernyataan ingin menjadi Warga Negara Indonesia kepada perwakilan
Indonesia, meskipun telah diberi pemberitahuan secara tertulis.
7.Pengertian Kemerdekaan beragama
dan berkepercayaan
Kemerdekaan beragama dan
berkepercayaan mengandung makna bahwa setiap
manusia bebas memilih, melaksanakan ajaran agama menurut keyakinan dan
kepercayaannya, dan dalam hal ini tidak boleh dipaksa oleh siapapun, baik itu
oleh pemerintah, pejabat agama, masyarakat, maupun orang tua sendiri.
Kemerdekaan beragama dan berkepercayaan muncul dikarenakan secara prinsip tidak
ada tuntunan dalam agama apa pun yang mengandung paksaan atau menyuruh
penganutnya untuk memaksakan agamanya kepada orang lain, terutama terhadap
orang yang telah menganut salah satu agama.
Setiap
orang memiliki kemerdekaan beragama, tetapi apakah boleh kita untuk tidak
beragama? Tentu saja tidak boleh, kemerdekaan beragama itu tidak dimaknai
sebagai kebebasan untuk tidak beragama atau bebas untuk tidak beriman kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Kemerdekaan beragama bukan pula dimaknai sebagai kebebasan
untuk menarik orang yang telah beragama atau mengubah agama yang telah dianut
seseorang. Selain itu kemerdekaan beragama juga tidak diartikan sebagai
kebebasan untuk beribadah yang tidak sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama masing-masing,
dengan kata lain tidak diperbolehkan untuk menistakan agama dengan melakukan
peribadatan yang menyimpang dari ajaran agama yang dianutnya.
Kemerdekaan
beragama dan kepercayaan di Indonesia dijamin oleh UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Dalam pasal 28 E ayat (1) dan (2) disebutkan bahwa:
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut
agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya,
serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,
menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Di samping itu, dalam pasal 29 UUD Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 ayat (2) disebutkan, bahwa negara menjamin kemerdekaan
tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat
menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Ketentuan-ketentuan
di atas, semakin menunjukkan bahwa di Indonesia telah dijamin adanya persamaan
hak bagi setiap warga negara untuk menentukan dan menetapkan pilihan agama yang
ia anut, menunaikan ibadah serta segala kegiatan yang berhubungan dengan agama
dan kepercayaan masing-masing. Dengan kata lain, seluruh warga negara berhak
atas kemerdekaan beragama seutuhnya, tanpa harus khawatir negara akan
mengurangi kemerdekaan itu. Hal ini dikarenakan kemerdekaan beragama tidak
boleh dikurangi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam Pasal 28 I ayat
(1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa:
hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa,
hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk
tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan
hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak
asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
8.Membangun Kerukunan Umat Beragama
Atau mungkin saja, kalian mempunyai tetangga yang tidak seagama dengan kalian. Hal itu semua, di negara kita merupakan sesuatu yang wajar.
Keberagaman agama yang dianut oleh bangsa Indonesia itu tidak boleh dijadikan hambatan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Hal tersebut tentu saja akan terwujud apabila dibangun kerukunan umat beragama.
Kerukunan umat beragama merupakan sikap mental umat beragama dalam rangka mewujudkan kehidupan yang serasi dengan tidak membedakan pangkat, kedudukan sosial dan tingkat kekayaan. Kerukunan umat beragama dimaksudkan agar terbina dan terpelihara hubungan baik dalam pergaulan antara warga baik yang seagama, berlainan agama maupun dengan pemerintah.
Apa saja bentuk kerukunan beragama itu? Di negara kita di kenal konsep Tri Kerukunan Umat Beragama, yang terdiri atas kerukunan internal umat seagama, kerukunan antar umat berbeda agama, dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Bagaimana perwujudan dari tiga konsep kerukunan itu?
Untuk mengetahuinya, simaklah uraian berikut.
Kerukunan antar umat seagama berarti adanya kesepahaman dan kesatuan untuk melakukan amalan dan ajaran agama yang dipeluk dengan menghormati adanya perbedaan yang masih bisa ditolerir. Dengan kata lain dengan sesama umat seagama tidak diperkenankan untuk saling bermusuhan, saling menghina, saling menjatuhkan, tetapi harus dikembangkan sikap saling menghargai, menghomati dan toleransi apabila terdapat perbedaan, asalkan perbedaan tersebut tidak menyimpang dari ajaran agama yang dianut.
Kemudian, kerukunan antar umat beragama adalah cara atau sarana untuk mempersatukan dan mempererat hubungan antara orang-orang yang tidak seagama dalam proses pergaulan pergaulan di masyarakat, tetapi bukan ditujukan untuk mencampuradukan ajaran agama. Ini perlu dilakukan untuk menghindari terbentuknya fanatisme ekstrim yang membahayakan keamanan, dan ketertiban umum.
Bentuk nyata yang bisa dilakukan adalah dengan adanya dialog antar umat beragama yang di dalamnya bukan membahas perbedaan, akan tetapi memperbincangkan kerukunan, dan perdamaian hidup dalam bermasyarakat. Intinya adalah bahwa masing-masing agama mengajarkan untuk hidup dalam kedamaian dan ketentraman.
Kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah, maksudnya adalah dalam hidup beragama, masyarakat tidak lepas dari adanya aturan pemerintah setempat yang mengatur tentang kehidupan bermasyarakat. Masyarakat tidak boleh hanya mentaati aturan dalam agamanya masing-masing, akan tetapi juga harus mentaati hukum yang berlaku di negara Indonesia.
9.SISTEM PERTAHANAN DAN KEAMANAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
1.
Subtansi
Pertahanan dan Keamanan Negara Republik Indonesia
Sebagaimana
kita ketahui, bahwa kemerdekaan yang diproklamirkan oleh Bangsa Indonesia tidak
diraih dengan mudah. Pengorbanan nyawa, harta, tenaga, dan sebagainya mewarnai
semua perjuangan merebut kemerdekaan.
Mengingat
begitu besarnya pengorbanan yang telah diberikan oleh para pahlawan bangsa,
sudah menjadi kewajiban kita yang hidup pada masa sekarang untuk mempertahankan
kemerdekaan dengan beragam macam cara.
Upaya
mempertahankan kemerdekaan ini, telah dipikirkan oleh para pendiri negara kita.
Mereka sudah memikirkan masa depan kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pendiri
negara pada sidang BPUPKI telah mencantumkan upaya mempertahankan kemerdekaan
kedalam UUD 1945 Bab XII tentang Pertahanan Negara (pasal 30).
Para
tokoh pendiri negara berkeyakinan bahwa kemerdekaan Indonesia bisa
dipertahankan apabila dibangun pondasi atau sistem pertahanan dan keamanan
negara yang kokoh, sehingga hal itu harus diatur dalam UUD 1945.
Perubahan
UUD 1945 semakin memperjelas sistem pertahanan dan keamanan negara kita. Hal
tersebut di atur dalam Pasal 30 ayat (1) sampai (5) UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa:
1)
Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
negara.
2)
Usaha
pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan
kemanan rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara
Indonesia Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat sebagai
keuatan pendukung.
3)
Tentara
Nasional Indonesia terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan
Udara sebagai alat negara bertugas mempertahankan, melindungi,dan memelihara
keutuhan dan kedaulatan negara.
4)
Kepolisian
Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan
ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat,
serta menegakkan hukum.
5)
Susunan
dan kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia,
hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia di dalam menjalankan tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga
negara dalam usaha pertahanan dan keamanan diatur dengan undang-undang.
Ketentuan
di atas menegaskan bahwa usaha pertahanan dan kemanan negara Indonesia
merupakan tanggung jawab seluruh Warga Negara Indonesia. Dengan kata lain,
pertahanan dan keamanan negara tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI dan POLRI
saja, namun masyarakat sipil pun sangat bertanggung jawab terhadap pertahanan
dan keamanan negara, sehingga TNI dan POLRI menunggal bersama masyarakat sipil
dalam menjaga keutuhan NKRI.
UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga memberikan gambaran mengenai usaha
pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). Sistem pertahanan dan
keamanan rakyat semesta pada hakikatnya merupakan segala upaya guna menjaga
pertahanan dan keamanan negara yang seluruh rakyat dan segenap sumber daya
nasional, sarana dan prasarana nasional, maupun seluruh wilayah negara sebagai
satu kesatuan pertahanan yang utuh serta menyeluru
Kunjungi tetus blog ini ya
BalasHapus